Monday, July 11, 2016

Quarter Life Crisis: Untuk Kepuasan Batin atau Mengisi Dompet?

Salah satu hal yang menjadi dilema di fase seperempat abad adalah soal pekerjaan. Fase tersebut, orang-orang diharapkan sudah bisa menanggung hidupnya sendiri secara materi. Punya penghasilan yang nantinya digunakan untuk isi pulsa sendiri, bayar tagihan sendiri, syukur-syukur bisa ngebiayain orang tua atau keluarga.

Bersyukurlah mereka yang sejak kuliah sudah tau apa yang ingin mereka kerjakan. Sehingga mereka memilih jurusan yang sesuai dengan tujuan mereka tersebut. Tapi yang jadi masalah ketika jurusan kuliah ternyata nggak sesuai dengan apa yang ingin kita kerjakan. Entah karena terpaksa, khilaf atau ngasal. Contoh terdekatnya adalah saya sendiri. Secara sadar saya memilih kuliah di jurusan Ekonomi. Dan secara sadar pula saya memilih bekerja di luar dari pendidikan saya tersebut, yakni jadi wartawan.

Tidak masalah sebetulnya. Sejak awal saya sudah bilang ke ibu saya kalau saya memilih jalan yang berbeda. Dengan berat namun berusaha ikhlas, ibu saya pun merelakan. Meski sesekali kami masih terlibat pembicaraan soal pekerjaan yang ‘layak’.

Kita hidup di negara dimana kerja sebagai PNS adalah sebuah kebanggaan. Ya memang tidak ada yang lebih membanggakan selain bekerja membantu negara. Tapi kan tidak semua orang harus bekerja di sana.

Tadi saya bilang kalo secara sadar saya memilih bekerja sebagai wartawan demi alasan yang sederhana. Saya suka menulis. Maka di sinilah saya sekarang, dengan bangga hati mengerjakan apa yang saya suka tanpa tekanan atau paksaan. Batin saya terpuaskan.

Di sisi lain, jika dihubungkan dengan masalah finansial pekerjaan saya ini agaknya seret buat menghasilkan nominal rupiah yang membuat angka nol di tabungan saya banyak. Jelas berbeda dengan teman-teman saya yang bekerja di pemerintahan ataupun di korporasi besar. Pundi-pundi mereka terisi dan terjamin. Jelas berbeda dengan saya.

Kadang kondisi ini membuat saya ingin menyerah. Tuntutan hidup yang semakin banyak membuat saya berpikir untuk hijrah ke korporasi atau pemerintahan yang gaji pokok lumayan, tunjangan dan bonus berlimpah. Tapi di sisi lain, saya menolak ide itu. Saya merasa saya tidak akan betah bekerja kantoran seperti itu, pakai baju rapih, terkurung dalam kubikel dsb. Tapi ya bekerja seperti ini hanya bikin diri sendiri bangga. Sungguh dilematis! Fak!

Saya pun sering kali berdiskusi soal ini dengan beberapa teman. Kami tidak pernah menghasilkan kesimpulan apa-apa, karena semua kembali pada keputusan kami.

Dan pula saya sampai pada satu pemikiran. Untuk saat ini saya mungkin masih akan bertahan di pekerjaan yang saya pilih dengan sukacita namun belum menghasilkan banyak ini. Namun nggak menutup kemungkinan saya akan hijrah. Kita perlu idealis tapi juga harus realistis bukan? Toh ya jalan hidup, rejeki, jodoh dan kematian sudah ada yang mengatur.

Klise! Memang.

Thursday, April 14, 2016

Apakah Bahagia itu Semu?

“Jangan lupa sarapan, pura-pura bahagia juga butuh energi”
Beberapa kali saya mendapatkan kalimat tersebut di media sosial. Kalimat yang bikin saya mengerutkan jidat tanda berpikir *puji tuhan masih ada otaknya hahaha

Mengapa orang harus berpura-pura bahagia? Karena bahagia itu sulit? Atau karena kalo kita sudah mencapainya kita tidak lagi mencari?

Bahagia seringkali dijadikan tujuan hidup manusia. Tapi seiring berjalannya waktu, bahagia sering kali dikonversi ke bentuk yang lain. Misal rumah sendiri, keluarga, sekolah tinggi, aset dimana-mana, kekasih rupawan atau yang lainnya?

Di sisi lain, ada pula tagar bahagia itu sederhana. Misalnya dengan makan masakan padang di rumah makan Sederhana atau kesederhanaan-kesederhanaan lainnya.

Namun nyatanya bahagia tidak pernah sesederhana itu. Aha! Mungkin karena itu muncullah kalimat yang kutulis di awal artikel ini.

Sesungguhnya yang membuat rumit adalah konversi bahagia menjadi hal-hal lain. Material itu harus dicari untuk memenuhinya. Makanya dengan berpura-pura, seolah-olah telah terpenuhi. Bisa jadi.

Dan juga sifat dasar manusia yang menjadikannya manusiawi, yakni tidak mudah puas. Tapi sesungguhnya perihal yang kedua justru berlawanan dengan berpura-pura bahagia.

Jika tidak puas harusnya manusia mencari. Ketika dia pura-pura maka artinya dia menyerah dalam mencari.

Peneliti dari Harvard menemukan kunci bahagia dari 75 tahun penelitiannya. Kuncinya adalah kualitas hubungan yang baik dengan orang lain. Yes bukan materi, bukan hal-hal yang ternilai secara nominal. (Bisa kamu baca di “Kunci Kebahagiaan yang Perlu Lo Tahu”)

Selain berpikir, setiap baca kalimat di awal artikel ini justru bikin saya sedih. Kenapa? Ternyata bahagia tidak sesederhana tagar yang dibuat orang-orang di dunia maya.

Sebenarnya berpura-pura bahagia itu hak setiap orang. Karena definisi bahagia tiap orang pun berbeda satu sama lain.

Tapi apakah bahagia itu semu? Kuharap tidak. Kuharap kita bisa berbahagia dengan cara kita masing-masing. Semoga tidak ada lagi yang berpura-pura bahagia. Ya semoga.

Tuesday, April 12, 2016

Sebuah Ekspektasi Akan Perpisahan

Beberapa pekan lalu, saya menemukan sebuah artikel di The New York Times. Artikel itu berjudul “Dying, With Nothing to Say” ditulis oleh Katie Roiphe. Tulisan tersebut berisikan tentang perpisahan. Intinya, kadang kita mengharapkan sebuah perpisahan yang proper atau layak, yang bisa melegakan hati, tanpa drama, airmata, dan berakhir bahagia. Itu harapannya.

Saya pernah mengalami kehilangan tanpa perpisahan, belasan tahun lalu. Papa meninggal dunia tanpa pesan apa-apa di hari Natal. Butuh bertahun-tahun bagi saya untuk memahami dan menerimanya.

Karena di satu sisi, saya berharap jika suatu saat orang tua saya meninggal dunia mereka meminta saya untuk menyiapkannya. Baik soal pemakaman, atau segala nasihat bagi saya sebelum mereka tinggal. Tapi yang terjadi belasan tahun lalu justru sebaliknya.

Umur saya waktu itu 11 tahun kurang lima hari. Pikiran saya masih dipenuhi harapan-harapan, termasuk harapan akan perpisahan yang layak. Namun yang saya hadapi tidak sesuai dengan harapan itu. Meleset jauh.

Perpisahan lainnya adalah ketika saya putus cinta dengan seseorang. Tanpa perpisahan, tanpa penjelasan. Seketika semua selesai, atau lebih tepatnya dibuat selesai.

Saat itu saya memasuki usia 20-an dan kepala saya pun masih dipenuhi harapan, termasuk harapan akan perpisahan yang layak. Misalnya dengan saling mengakui kesalahan, saling memaafkan, saling berterima kasih, dsb. Tapi yang terjadi justru tidak ada apapun dari itu.

Dari dua perpisahan yang tidak sesuai harapan ataupun ekspektasi itu, jelas ada perbedaan. Seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, butuh bertahun-tahun untuk rela, ikhlas dan kemudian paham atas kehilangan Papa. Sedangkan ketika putus cinta itu tidak sampai bertahun-tahun.

Namun keduanya sama-sama membuat saya belajar akan satu hal sebelum menemukan artikel di The New York Times ini. Yakni, bahwa hidup tidak selalu sesuai ekspektasi, termasuk perpisahan.

Kadang saya suka berandai-andai akan perpisahan. Kalau waktu itu Papa meninggal tidak secara tiba-tiba ketika menerima tamu di rumah sewaktu Natal akan seperti apa saya sekarang. Jika Papa meninggal karena sakit, mungkin itu justru menyiksanya. Jika Papa meninggal dengan mengucapkan segala nasehat bagi saya, mungkin itu tidak akan membentuk diri saya menjadi dewasa. Dan bisa jadi saya tidak akan pernah ‘pergi’ mencari pemahaman dan diri saya sendiri.

Lalu, jika waktu itu saya putus cinta dengan baik-baik dan alasan yang jelas. Bisa jadi saya malah makin susah move on. Atau mungkin justru akan terjadi drama-drama yang tidak perlu.

Part of the problem is that some silences are too wide to narrate. Words, even if the right ones miraculously presented themselves, would not be enough. The confession and forgiveness we want to fill the room do not spring up more naturally in extremis, under duress. It may be the last chance for the dying person to clarify, but clarity doesn’t necessarily come. In this way, death is a lot like life.

Namun rasanya pun akan selalu menjadi sulit ketika kita menghadapi perpisahan. Baik dengan perpisahan yang layak ataupun tidak. Perpisahan selalu menyakitkan. Perpisahan selalu membuat ruang kosong dalam hati, bagaimanapun bentuknya.

Jika diperbolehkan berandai-andai, perpisahan apa yang kamu inginkan?



Baca: Dying, With Nothing to Say - Katie Rophie

Dia dan Penasaran


Tweet dari salah satu penulis kesukaan saya mungkin adalah yang paling tepat menggambarkan perasaan saya padanya. Tidak ada hal-hal romantis dalam perkenalan atau hubungan kami selama ini. Tidak pernah ada ucapan selamat tidur, selamat beraktivitas, aku merindukanmu, ataupun baik-baik ya, darinya. Tidak pernah.

Namun dia tetap berkesan. Dia tetap membuat penasaran. Penasaran yang membahagiakan sekaligus menggelikan dengan letupan kecil yang tidak bisa kukendalikan dalam hati dan pikiran.

Suatu hari aku pernah bertanya. Dari sekian ribu juta pertanyaan, tapi boong deng, itu hanya satu yang dijawabnya. Jawaban yang agak mengecewakan. Namun juga justru melegakan. Meski jawaban itu tidak pernah meredakan setiap pertanyaan dari rasa penasaranku padanya.

Dia seperti bawang, kataku. Berlapis dan membuatku bertahan untuk mengupasnya untuk tahu dalamnya.

Dia seperti kaktus, kataku. Tumbuh tanpa tahu siapa yang memberinya air ataupun pupuk untuk bertahan di tengah gurun.

Dia seperti dia. Darinya tidak pernah lahir hal-hal romantis yang bikin hati mabuk kepayang. Darinya tidak pernah muncul hal-hal manis yang bisa bikin pipi merona dan hati meronta kesenangan. Dia seperti dia. Darinya segala penasaran hidup dan tumbuh. Dia, penasaran.

Quarter Life Crisis: Love Life

Urusan cinta sebetulan permasalah di segala fase usia seseorang. Fase cinta monyet, fase abg, fase puber, dan fase-fase lainnya. Tapi di usia 25 tahun atau separuh abad ini menjadi lebih membingungkan.

Usia 25 tahun dinilai sebagai usia yang siap nikah. Tapi di sisi lain, usia 25 tahun merupakan usia yang penuh dengan tuntutan. Kerjaan, pertemanan, mimpi, keuangan dan termasuk cinta-cintaan itu sendiri.

Usia 25 tahun menjadi serba salah. Punya pacar, baik yang udah lama atau baru, udah ditagih kapan nikah. Atau udah punya pacar, pas mau nikah bibit bebet bobot nggak sesuai ribet lagi. Belum punya pacar pun ditagih kapan nikah.

Padahal menikah bukan soal cepet-cepetan. Tapi soal kesiapan. Dan tidak semua orang yang berusia 25 tahun sudah siap lahir dan batin untuk menikah.

Dan nikah ternyata nggak sesederhana mempersatukan dua manusia yang berbeda sikap dan sifat. Tapi dua keluarga, dua kultur, dua dunia, dua hal yang berbeda sama sekali. Seagama belum tentu sealiran. Sesuku belum tentu akur. Dan hal-hal lainnya.


Lalu saya teringat pada satu scene dari film Science of Sleep. Stephane yang terkungkung oleh mimpinya menjadi begitu takut ditolak oleh Stephanie. Sehingga mendorongnya untuk mengajak Stephanie menikah jika usia mereka 70 tahun, dimana (menurut Stephen) tidak ada lagi hal yang mereka pikiran.

Saya langsung sepakat. Hahahaha meskipun saya nggak pengen nikah di usia 70 tahun. Hahaha.

Habisan ada aja hal yang diribetin. Kayak agama, materi, apa kata orang, dsb dsb. Ribet!

Dan kalo udah di usia 70 tahun itu, orang udah nggak mikirin apa-apa. Nggak mikir soal materi, nggak mikir apa kata orang, nggak mikir apa-apa.

Ini pun mirip kayak lagunya Silampukau yang berjudul “Cinta Itu”.

cinta itu untuk kapan-kapan
kala hidup tak banyak tuntutan

Tapi balik lagi kayak apa yang udah kutulis sebelumnya.

Menikah itu bukan soal cepet-cepetan tapi kesiapan.